Sabtu, 30 Agustus 2014

Teks drama anekdot
Tema   : Pelayanan Publik
KELOMPOK DEWI LESTARI
BAHASA PEMINATAN
KELAS X.1 | Angkatan 10
Tokoh  :
Zulfirah Tiar Arifin                  Bu Sukma (Petugas Terminal)
Aqilah Salsabila R.                  Bu Inem (Supir)
Ufarah Indah Sari                    Jelani (Teman Laila)
Kartika Nursyahbani                Laila (Mahasiswi)

Perempuan Aneh

            Pada suatu hari, di sebuah terminal yang sangat ramai, ada seorang mahasiswi yang ingin pulang kampung, Ia pun membawa banyak barang. Ia ingin pulang ke kampung halamannya tetapi  ingin menggunakan mobil yang mewah. Tetapi uangnya tidak mencukupi. Perempuan itu bernama Laila.
Laila                            : (sambil berjalan dengan mengangkat semua barangnya) “Ini barang beratnya minta ampun..”
Laila pun berjalan dan mencari tempat duduk untuk ditempatinya. Setelah beberapa menit mencari tempat, akhirnya Laila menemukan tempat kemudian menyimpan barangnya tepat di sampingnya. Tiba-tiba…..
Bu Sukma                   : (datang menghampiri Lyla) “Maaf adik jurusannya kemana?”
Laila                            : (Mendongkakkan kepalanya sambil menatap Si Petugas terminal) “Saya jurusan ke daerah Bone, Bu.”
Bu Sukma                   : “Oh, kalau jurusannya ke Bone mungkin mobil ke arah sana akan berangkat 2 sampai 3 jam kedepan lagi.”
Laila                            : “Hm, jadi saya harus menunggu sampai beberapa jam lagi gitu?” (dengan wajah heran)
Bu Sukma                   : “Sepertinya begitu.”
Laila                            : “OK. Kalau begitu saya menunggu di sini. Terima kasih atas informasinya, Bu!”

Petugas terminal pun tersenyum kemudian berjalan meninggalkan Laila yang masih duduk bergeming di tempatnya. Setelah beberapa menit, Petugas terminal tersebut pergi kemudian datanglah teman Laila yang juga hendak pulang kampung.
Jelani                           : (berjalan mendekati Laila) "Hey, Laila! Lagi nungguin siapa nih?”
Laila                            : “Seperti biasa.. nungguin mobil yang arahnya ke Bone dong!”
Jelani                           : “Wah sama dong, saya juga mau pulang kampung dan arah kita sama!”
Laila                            : “Emangnya kamu mau pulang kampung ke mana?”
Jelani                           : “Pulang ke Parepare.”
Laila                            : “Kalau itu mah kita satu jurusan, tapi kamu kan yang bakalan sampai duluan?”
Jelani                           : “Iya sih.. Eh tapi kita satu mobil aja yuk!”
Laila                            : “OK. Sip!” (sambil menaikkan jempolnya tanda setuju)
Jelani                           : “Hm. Laila, aku kesana dulu yah! aku Haus nih.” (menunjuk sebuah mini-market)
Laila                            : “Iya, Silahkan. Aku tunggu kamu disini aja yah!” (sambil menduduki sebuah kursi di dekat dari tempatnya berdiri tadi)

Waktu pun terus berjalan. Laila dan Jelani telah lama menunggu di stasiun dan akhirnya tibalah saatnya mobil yang arah tujuannya ke Bone akan segera berangkat. Lalu datanglah kembali Si Petugas terminal tersebut.
Bu Sukma                   : “Permisi, adik tadi yang arah jurusannya ke arah Bone, kan?”
Laila dan Jelani           : (serempak menjawab pertanyaan Si Ibu) “Iya, Bu.”
Bu Sukma                   : “Nah, kalau begitu adik-adik harus siap-siap karena mobil  jurusan ke Bone akan segera berangkat.”
Jelani                           : “Hm, kalau gitu terima kasih atas informasinya lagi, Bu.” (sambil tersenyum)
Bu Sukma                   : “Iya, sama-sama. Itu sudah kewajiban dan tugas saya di sini.” (sembari beranjak pergi meninggalkan Laila dan Jelani)

Laila dan Jelani  pun bergegas pergi menghampiri tempat keluar mobil. Tetapi, pada saat Laila melihat mobil yang baru tiba tersebut, ternyata mobil tersebut tidak sesuai dengan apa yang Dia harapkan. Laila pun menjadi tidak ingin naik ke mobil tersebut.

Jelani                           : (menengok ke Laila) “Laila,  ayo naik ke mobil. Tuh mobilnya udah datang.” (menunjuk mobil yang baru saja tiba)
Laila                            :Hm, kita tunggu mobil selanjutnya aja yah!”
Jelani                           :Memangnya kenapa?
Laila                            :Kamu nggak lihat mobilnya kayak gitu? Jadi malas aku  naik mobil kayak  dfghbjkhgjbvnjm,nbvhjjgitu”
  Jelani                           : Yaudah deh, kalau gitu aku pergi duluan yah! Aku malas nunggu lagi nih. Kamu tunggu yang lain aja yah
Laila                            : (dengan nada yang lesu) Yaudah deh kalau gitu kamu duluan aja sana. Nanti aku di mobil selanjutnya.”
  Jelani                           :OK, kalau gitu aku duluan yah. Bye..(sambil meninggalkan Lyla)

Jelani  pun pergi dan berlalu meninggalkan Laila yang masih bergeming di tempatnya. Tak lama setelah Jelani pergi datanglah kembali Si Petugas terminal itu di tempat Laila duduk.

Bu Sukma                   : (datang menghampiri Laila) ”Maaf, kenapa adik belum juga berangkat? Padahal teman adik sudah duluan pergi.”
Laila                            : (beranjak dari kursinya) ”Suka-suka saya dong! saya masih disini karena saya masih menunggu mobil yang saya mau.” (dengan nada ketus)
Bu Sukma                   : (dengan muka yang agak ketus) ”Oh, seperti itu. Kalau begitu adik tunggu saja di sini! Pasti masih ada mobil yang lewat nanti.”
Laila                            : “OK. Hm Bu biasanya mobil yang arah ke Bone akan lewat sampai jam berapa?”
Bu Sukma                   : “Biasanya mobil terakhir yang arah ke Bone paling lambat tibanya jam 12 malam gitu deh.”
Laila                            : “Oh.”
Bu Sukma                   : “Kalau begitu saya ke sana dulu ya, Bu!”
Laila                            : “Iya”

Petugas terminal tersebut pun pergi meninggalkan Laila sendirian. Waktu pun terus barjalan hingga tepat jam 00.00 malam. Tidak ada satu pun mobil yang lewat yang disukai oleh Laila. Karena melihat Laila masih termenung di tempat, Petugas tersebut pun kembali menghampiri Laila.
Bu Sukma                   : (datang menghampiri Laila) “Loh, adik kenapa belum juga pergi?”
Laila                            : “Karena semua mobil yang lewat tidak ada yang cocok buat saya.”
Bu Sukma                   : (melihat sekitarnya untuk mencarikan mobil yang cocok untuk  Laila) “Hm, oh itu ada mobil yang ke arah Bone.” (menunjuk sebuah mobil) “Kamu hentikan saja mobil itu.”
Laila                            : “Oh, iya. Kalau begitu saya ke situ dulu ya, Bu.” (beranjak dari kursi)
Bu Sukma                   : “Baiklah dan saya pergi ke sana dulu.” (tersenyum dan meninggalkan tempatnya tadi

Laila pun menghampiri mobil tersebut.

Bu Inem                      : (turun dari mobil) “Adik mau ke Bone?”
Laila                            : “Iya.”
Bu Inem                      : “Oh, bagus kalau begitu karena mobil saya jurusannya ke Bone. Jadi, kamu boleh ikut.”
Laila                            : “Berapaan tuh, Bu?”
Bu Inem                      : “Hhmm.. sekarang kan sudah malam jadi harganya pasti beda. Jadi, sekarang harganya Rp.200.000.-, Bagaimana? Mau tidak?”
Laila                            : “Tapi, uang saya nggak cukup.” (dengan wajah yang meraut)
Bu Inem                      : “Kalau begitu… Rp.199.000,-.?”
Laila                            : “Yailah.. uang aku gak cukup, Ibuuuuu” (wajah cemberut)
Bu Inem                      : “Kamu punya uang berapa, sih?”
Laila                            : “Cuma Rp.150.000,-.”
Bu Inem                      : “Hm, baiklah nggak masalah karena kamu adalah penumpang terakhir. Jadi, tidak masalahlah…” (sambil menahan tawanya di dalam hati)
Laila                            : “Jadi, berapa nih, Bu??????” (dengan wajah yang penuh harapan)
Bu Inem                      : “Kasih Rp.150.000,-. saja deh.”
Laila                            : “Serius nih, Bu? Wah!! Terimakasih sebelum dan sesudahnya kalau begitu, Bu!!” (bersorak gembira)
Bu Inem                      : “Iya, iya. Tapi… gak apa-apa juga kan kalau…” (menahan tawanya di dalam hati)
Laila                            : (terdiam heran)
           
Sang Supir pun mulai mengangkat barang Laila  dan memasukkannya ke dalam bagasi mobil. Setelah diatur, Si Supir pun kembali masuk ke dalam mobil.

Bu Inem                      : “Ya sudah! Cepat naik! Ini sudah larut malam.” (menaiki mobil)
Laila                            : “Hm, saya duduk di mana yah?”
Bu Inem                      : (kembali turun dari mobil) “Kamu duduknya di situ saja ya!” (menunjuk atap mobil)
Laila                            : “Loh, kok duduk di atas, Bu?” (dengan wajah kaget)
Bu Inem                      : “Itu karena barang kamu banyak sekali dan uang kamu pun tidak mencukupi. Jadi, kamu harus terima duduk di atas sana saja dengan barang-barang kamu itu!”

Laila hanya dapat  terdiam dengan wajah yang murung dan akhirnya Laila pun menjadi pasrah karena hari sudah malam.


ØAmanat   : Syukurilah apa yang ada.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar